1. Q.S. An-Nahl/16: 125 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْ...
1.
Q.S. An-Nahl/16: 125
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ
هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (١٢٥)
2.
Terjemah dan Asbabun Nuzul
a.
Terjemahnya :
“Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
b.
Asbabun Nuzul
Para mufassir berbeda pendapat seputar sebab an-nuzul
(latar belakang turunnya) ayat ini. Al-Wahidi menerangkan bahwa ayat ini turun
setelah Rasulullah SAW menyaksikan jenazah 70 sahabat yang syahid dalam perang
uhud, termasuk hamzah, paman Rasulullah. Al-Qurtubi menyatakan bahwa ayat ini
turun di makkah ketika adanya perintah kepada Rasulullah SAW, untuk melakukan
genjatan senjata (muhadanah) dengan pihak Quraisy. Akan tetapi, Ibn
Katsir tidak menjelaskan adanya riwayat yang menjadi sebab turunnya ayat
tersebut.
3.
Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Metode
dan Strategi Pendidikan
No
|
Surah
|
Ayat
|
Terjemahnya
|
1.
|
An-Nahl/16:
75-76
|
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا عَبْدًا مَمْلُوكًا لا يَقْدِرُ
عَلَى شَيْءٍ وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ
سِرًّا وَجَهْرًا هَلْ يَسْتَوُونَ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ
(٧٥) وَضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَهُوَ
كَلٌّ عَلَى مَوْلاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لا يَأْتِ بِخَيْرٍ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ
وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٧٦)
|
75. Allah
membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak
dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezki yang
baik dari Kami, lalu Dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi
dan secara terang-terangan, Adakah mereka itu sama? segala puji hanya bagi
Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui.
76. dan Allah
membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat
sesuatupun dan Dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja Dia disuruh
oleh penanggungnya itu, Dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun.
samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan Dia berada
pula di atas jalan yang lurus?
|
2.
|
Al-Baqarah/2:
67-73
|
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ
أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ
أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (٦٧) قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا
هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لا فَارِضٌ وَلا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ
ذَلِكَ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ (٦٨) قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا
لَوْنُهَا قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا
تَسُرُّ النَّاظِرِينَ (٦٩) قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا
هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ
(٧٠) قَالَ
إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لا ذَلُولٌ تُثِيرُ الأرْضَ وَلا تَسْقِي الْحَرْثَ
مُسَلَّمَةٌ لا شِيَةَ فِيهَا قَالُوا الآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوهَا وَمَا
كَادُوا يَفْعَلُونَ (٧١) وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا
وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (٧٢) فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِي
اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (٧٣)
|
67. dan
(ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." mereka berkata:
"Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?" Musa menjawab:
"Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari
orang-orang yang jahil".
68. mereka
menjawab: " mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan
kepada kami; sapi betina Apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya
Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan
tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu".
69. mereka
berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan
kepada Kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah
berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning
tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya."
70. mereka
berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan
kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu
(masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat
petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)."
71. Musa
berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi
betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk
mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." mereka berkata:
"Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya".
kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan
perintah itu.
72. dan
(ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh
menuduh tentang itu. dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu
sembunyikan.
73. lalu Kami
berfirman: "Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu
!" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati,
dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti.
|
3.
|
Al-Ma’un/107:
1-3
|
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١) فَذَلِكَ الَّذِي
يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢) وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣)
|
1. tahukah
kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah
orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak
menganjurkan memberi Makan orang miskin.
|
4.
|
Al-Baqarah/2:
132-133
|
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ
يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ (١٣٢) أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ
إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ
آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ
مُسْلِمُونَ (١٣٣)
|
132. dan
Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub.
(Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih
agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama
Islam".
133. Adakah
kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata
kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka
menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu,
Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk
patuh kepada-Nya".
|
5.
|
Al-Baqarah/2:
31-33
|
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ
عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
(٣١) قَالُوا
سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
(٣٢)
|
31. dan Dia
mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang
benar!"
32. mereka
menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa
yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana[35]."
33. Allah
berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda
ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu,
Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya
aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan
dan apa yang kamu sembunyikan?"
|
4.
Tafsir Lughawi dan Analisis
Kebahasaan
إعر
بية
|
معن
الغو ية
|
ترجمة
|
المفردات
|
أمرفاعله
مستتروالجملة مستأنفة
|
Serulah
|
ادْعُ
|
|
متعلقا
نبا دع
|
أي
إلى طاعته الله موصلة إلى رضوانه وإنعا مه فهي سبيل الله
|
Kepada jalan
|
إِلَى
سَبِيلِ
|
مضاف
إليه والكا ف مضاف إليه
|
Tuhanmu
|
رَبِّكَ
|
|
متعلقا
ن بادع
|
أي
بالقرآن و المقاله المحكمة الصحيحة ذات الدليل الموضح للحق
|
Dengan hikmah
|
بِالْحِكْمَةِ
|
معطوف
على الحكمة
|
هي
مواعظ القرآن، والقول الر قيق الحسن
|
Dan
pengajaran
|
وَالْمَوْعِظَةِ
|
صفة
|
Yang baik
|
الْحَسَنَةِ
|
|
الواوعطفة
وأمر فاعله مستتر والهاء مفعول به والجملة معطوفة
|
أي باالمجدلة
التي هي أحسن من غيرها
|
Dan bantahlah
mereka
|
وَجَادِلْهُمْ
|
اسم
موصول في محل بالباء و متعلقا ن بحا د لهم
|
Dengan(cara)
yang
|
بِالَّتِي
|
|
مبتدأوخبروالجملة
صلة
|
Baik
|
هِيَ
أَحْسَنُ
|
|
إن
واسمها و الكا ف مضا ف إليه
|
Sesungguhnya
tuhanmu
|
إِنَّ
رَبَّكَ
|
|
مبتدأ
و خبر و الجملة خبر إن
|
Dia lebih
mengetahui
|
هُوَ
أَعْلَمُ
|
|
اسم
موصول في محل جر و متعلقا ن بأعلم
|
Dengan/pada
siapa
|
بِمَنْ
|
|
ماض
فا عله مستتر و الجملةصلة
|
Tersesat
|
ضَلَّ
|
|
متعلقان
بضل
|
Dari jalannya
|
عَنْ
سَبِيلِهِ
|
|
مبتدأوخبروالجملة
معطوفة
|
Dan dia lebih mengetahui
|
وَهُوَ
أَعْلَمُ
|
|
متعلقان
بأعلم
|
Dengan/pada
orang-orang yang mendapat petunjuk
|
بِالْمُهْتَدِينَ
|
Kata (ادع) disebutkan sebanyak 212 kali di dalam
Al-Qur’an dalam bentuk akar katanya دعو beserta kata baku/turunannya. Dan kata ini ditemukan sebanyak
19 kali dalam bentuk amr (bentuk perintah).
Kata (سبيل) disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 176
kali. Kata sabîl terbentuk dari huruf sinba’-lam dengan kata kerja sabala -
yasbulu, yang artinya melepas atau mengurai. Kata ini
mempunyai berbagai macam kategori seperti yang menunjuk dan pola hidup yang
sesuai dengan tuntunan dari Allah SWT seperti kata سبيل
الله, سبيل, سبيله atau
juga dirangkaikan dengan hamba-hamba Tuhan yang taat dan yang durhaka sabil
al-mustaqim dan sabilul al-mujrimin. Dengan demikian, banyak kata sabil (banyak
jalan), yang menyebabkan seseorang harus berhati-hati supaya tidak terjerumus
dalam kesesatan. Menurut Syaikh Yusuf al-Qardawi penafsiran kata سبيل ini sendiri diartikan dengan jihad, sebagaimana yang diartikan mazhab.
Akan tetapi jihad yang dimaksudnya adalah jihad dalam bentuk tulisan, lisan,
pemikiran, pendidikan, sosial, budaya serta politik yang kesemuanya itu
digunakan untuk keagungan dan kemegahan Islam.
Kata (رب) disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 980 kali baik itu
berasal dari akar kata ataupun kata baku/turunan. Menurut Prof. Dr. Nasaruddin
Umar Kata Rabb adalah nama Tuhan dalam level Wahidiyyah. Lafaz Rabb tidak
termasuk dalam al- Asma
al-Husna, tetapi mungkin bisa disebut sebagai cover dari totalitas nama-nama-Nya yang
tergabung di dalam al-Asma'
al-Husna. Kata Rabb juga digunakan sebagai nama terhadap Tuhan lain
selain Allah SWT. Rab juga mempunyai bentuk jamak, yaitu arbab (Tuhan-tuhan). Berbeda dengan kata
Allah tidak memiliki bentuk mufrad,
apa lagi jamak. Penggunaan kata Rabb banyak digunakan di dalam Alquran,
khususnya ayat-ayat Makkiyah. Ayat-ayat yang turun di Madinah lebih banyak
menggunakan nama eksplisit Allah SWT. Ayat-ayat pendek yang tergabung di dalam
juz 'Amma pada umumnya menggunakan kata "Rabb". Ayat yang paling
pertama Allah turunkan ialah Iqra' biismi Rabbik (bacalah dengan nama Tuhanmu),
bukannya menggunakan Iqra' biism Allah (Bacalah dengan nama Allah). Hal ini
bisa dipahami karena kata Allah belum begitu familiar dalam masyarakat Arab
saat itu. Yang lebih popular ialah Rabb. Ada pula yang menafsirkan kata ini dengan
كل شيء مالكه rab segala sesuatu adalah maalik (pemilik atau
penguasa) hal ini juga semakna dengan pendapat Ibnu Mandzur. Dalam Aqidah Ahlu sunnah wal jama'ah kata
Robb lebih menunjukan pada tauhid Rububiyyah ( Alloh yang maha menguasai, maha
pencipta ). Sedangkan tauhid Uluhiyah banyak dikaitkan dengan kata ilah.
5.
Analisis dan Nilai Pendidikan
Metode dan strategi merupakan hal yang sangat penting dalam
proses belajar mengajar. Apabila dalam proses pendidikan tidak menggunakan
metode yang tepat maka harapan tercapainya tujuan pendidikan akan sulit untuk
diraih. Dalam al-qur’an Allah SWT menjelaskan berbagai macam metode dan
strategi dalam proses pendidikan. Berikut merupakan beberapa metode pendidikan
dalam al-qur’an :
a. Metode dalam Q.S. An-Nahl: 125
Dari
surah an-Nahl ini tercantum 3 metode pembelajaran, diantaranya:
1) Metode Hikmah
Kata hikmah (حكمة)
dalam tafsir al-Misbah berarti “yang paling utama dari segala sesuatu, baik
pengetahuan maupun berbuatan”. Dalam bahasa Arab al-hikmahbermakna
kebijaksanaan dan uraian yang benar. Dengan kata lain al-hikmah adalah mengajak kepada jalan Allah dengan cara keadilan dan
kebijaksanaan, selalu mempertimbangkan berbagai faktor dalam proses belajar
mengajar, baik faktor subjek, obyek, sarana, media dan lingkungan pengajaran.
Pertimbangan pemilihan metode dengan memperhatikan peserta didik diperlukan
kearifan agar tujuan pembelajaran tercapai dengan maksimal. Selain itu dalam
penyampaian materi maupun bimbingan terhadap peserta didik hendaknya dilakakuan
dengan cara yang baik yaitu dengan lemah lembut, tutur kata yang baik, serta
dengan cara yang bijak.
Imam Al-Qurtubi menafsirkan al-hikmah dengan “kalimat yang lemah
lembut”. Beliau menulis dalam tafsirnya:
وَأَمْرُهُ
أَنْ يَدْعُوَ إِلَى دِيْنِ اللهِ وَشَّرْعِهِ بِتَلَطُّفٍ وَلَيِّنٍ دُوْنَ
مُخَاشَنَةٍ وَتَعْنِيْفٍ
“Nabi diperintahkan untuk mengajak umat manusia kepada
“dinnullah” dan syariatnya dengan lemah lembut tidak dengan sikap bermusuhan.”
Hal ini berlaku kepada kaum muslimin seterusnya sebagai pedoman pembelajaran dan
pengajaran. Hal ini diinspirasikan dari ayat Al-Qur’an dengan kalimat “qaulan
layinan”. Allah berfirman :
فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ
يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (٤٤)
Terjemahnya:
“Maka berbicaralah
kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia
ingat atau takut.”(Q.S. Thaha/20: 44)
Proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan
lancar manakala ada interaksi yang kondusif antara guru dan peserta didik.
Komunikasi yang arif dan bijaksana memberikan kesan mendalam kepada para siswa
sehingga “teacher oriented” akan berubah menjadi “student oriented”.
Guru yang bijaksana akan selalu memberikan peluang dan kesempatan kapada
siswanya untuk berkembang.
2) Metode Nasihat/Pengajaran Yang Baik (Mauizhah Hasanah)
Mauidzah
hasanah terdiri dari dua kata “al-Mauizhah dan Hasanah”. al-Mauizhah (الموعظة) terambil dari kata (وعظ) wa’azha yang berarti
nasihat sedangkanhasanah (حسنة) yang berarti baik. Maka jika digabungkan Mauizhah hasanahbermakna nasihat yang baik. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ
مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
(٥٧)
Terjemahnya:
“Hai
segenap manusia, telah datang kepada kalian mauizhah dari pendidikanmu, penyembuh bagi penyakit yang bersemayam di
dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus/10: 57)
3) Metode Diskusi (jidal)
Kata jadilhum (جادلهم) berasal dari kata jidal (جدال) yang
bermakna diskusi. Metode diskusi yang dimaksud dalam al-Qur’an ini adalah
diskusi yang dilaksanakan dengan tata cara yang baik dan sopan. Yang mana tujuan dari metode ini ialah untuk lebih
memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap suatu masalah.
Definisi diskusi itu sendiri yaitu cara penyampaian
bahan pelajaran dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membicarakan,
menganalisa guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun
berbagai alternative pemecahan masalah. Dalam kajian metode mengajar disebut
metode “hiwar” (dialog). Diskusi memberikan peluang sebesar-besarnya kepada para
siswa untuk mengeksplor pengetahuan yang dimilikinya kemudian dipadukan dengan
pendapat siswa lain. Satu sisi mendewasakan pemikiran, menghormati pendapat
orang lain, sadar bahwa ada pendapat di luar pendapatnya dan di sisi lain siswa
merasa dihargai sebagai individu yang memiliki potensi, kemampuan dan bakat
bawaannya.
Dengan demikian para pendidik dapat mengetahui keberhasilan
kreativitas peserta didiknya, atau untuk mengetahui siapa diantara para peserta
didiknya yang berhasil atau gagal.
b. Metode Teladan/Meniru
Manusia banyak belajar dengan cara meniru. Dari kecil
ia sudah meniru kebiasaan atau tingkah laku kedua orang tua dan
saudara-saudaranya. Misalnya, ia mulai belajar bahasa dengan berusaha meniru
kata-kata yang diucapkan saudaranya berulang-ulang kali dihadapannya.
Begitu juga dalam hal berjalan ia berusaha meniru cara
menegakkan tubuh dan menggerakkan kedua kaki yang dilakukan orang tua dan
saudara-saudaranya. Demikianlah manusia belajar banyak kebiasaan dan tingkah
laku lewat peniruan kebiasaan maupun tingkah laku keluarganya.
Al-Qur’an sendiri telah mengemukakan contoh bagaimana
manusia belajar melalui metode teladan/meniru. Ini dikemukakan dalam kisah pembunuhan
yang dilakukan Qabil terhadap saudaranya Habil. Bagaimana ia tidak tahu cara
memperlakukan mayat saudaranya itu. Maka Allah memerintahkan seekor burung
gagak untuk menggali tanah guna menguburkan bangkai seekor gagak lain. Kemudian
Qabil meniru perilaku burung gagak itu untuk mengubur mayat saudaranya Habil. Allah SWT berfirman:
فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الأرْضِ
لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ
أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ
النَّادِمِينَ (٣١)
Terjemahnya:
“Kemudian Allah
menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan
kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak
mampu berbuat seperti burung gagak ini. Lalu aku dapat menguburkan mayat
saudaraku ini?”. Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang
menyesal.” (Q.S. Al-Maidah/5: 31)
Melihat tabiat manusia yang cenderung untuk meniru dan
belajar banyak dari tingkah lakunya lewat peniruan. Maka, teladan yang baik
sangat penting artinya dalam pendidikan dan pengajaran. Nabi Muhammad SAW.
sendiri menjadi suri tauladan bagi para sahabatnya, dari beliau mereka belajar
bagaimana mereka melaksanakan berbagai ibadah.
Ada sebuah Hadist yang menceritakan bahwa para sahabat
meniru salat sunnah witir Nabi SAW:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ
عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ عَنْ
سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ أَسِيرُ مَعَ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بِطَرِيقِ مَكَّةَ فَقَالَ سَعِيدٌ فَلَمَّا خَشِيتُ
الصُّبْحَ نَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ ثُمَّ لَحِقْتُهُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
عُمَرَ أَيْنَ كُنْتَ فَقُلْتُ خَشِيتُ الصُّبْحَ فَنَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ فَقَالَ
عَبْدُ اللَّهِ أَلَيْسَ لَكَ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِسْوَةٌ حَسَنَةٌ فَقُلْتُ بَلَى وَاللَّهِ قَالَ فَإِنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ عَلَى الْبَعِيرِ
Artinya:
“Telah
menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepadaku Malik
dari Abu Bakar bin ‘Umar bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al
Khaththab dari Sa’d bin Yasar bahwa dia berkata: “Aku bersama ‘Abdullah bin
‘Umar pernah berjalan di jalanan kota Makkah. Sa’id berkata, “Ketika aku khawatir akan (masuknya
waktu) Shubuh, maka aku pun singgah dan melaksanakan shalat witir. Kemudian aku
menyusulnya, maka Abdullah bin Umar pun bertanya, “Dari mana saja kamu?” Aku
menjawab, “Tadi aku khawatir akan (masuknya waktu) Shubuh, maka aku singgah dan
melaksanakan shalat witir.” ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Bukankah kamu telah
memiliki suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam?” Aku menjawab, “Ya. Demi Allah.” Abdullah bin Umar berkata,
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat witir di
atas untanya.” (H.R. Bukhari)
Allah SWT telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan dan
panutan. Allah SWT
berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)
Terjemahnya:
“Sesungguhnya
telah ada pada pribadi Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari akhir dan dia banyak
dzikrullah.” (QS. Al-Ahzab/33: 21)
Melalui suri tauladan yang baik, manusia dapat belajar
kebiasaan baik dan akhlak yang mulia. Sebaliknya jika suri tauladannya buruk
manusia akan terjerumus pada kebiasaan yang buruk dan akhlak yang tercela.
c. Metode Ceramah
Metode ini merupakan metode yang sering digunakan
dalam menyampaikan atau mengajak orang mengikuti ajaran yang telah ditentukan.
Metode ceramah sering disandingkan dengan kata khutbah. Dalam al-Qur’an sendiri kata
tersebut diulang sembilan kali. Bahkan ada yang berpendapat metode ceramah ini
dekat dengan kata tablih, yaitu menyampaikan sesuatu ajaran. Pada hakikatnya kedua arti
tersebut memiliki makna yang sama yakni menyampaikan suatu ajaran.
Pada masa lalu hingga sekarang metode selalu kita
jumpai dalam setiap pembelajaran. Akan tetapi bedanya terkadang metode ini di
campur dengan metode lain.Dalam sebuah Hadist Nabi SAW bersabda :
وَعَنْ
عَبْدِ االلهِ بْنِ عُمَرَ وَبْنِ الْعَاصِ رَضِيَ االلهُ عَنْهُمَا أَنَ
النَّبِيَ صلى االله علىه وسلم قال "بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آیَةً
وَحَدِّثُوْا عَنْ بَنِيْ إِسْرَائِیْلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ
مُتَعَمِّدًا فَلْیَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (رواه البخاري)
Artinya:
“Sampaikanlah apa yang
datang dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah apa yang kamu dengar dari
Bani Isra’il, dan hal itu tidak ada Salahnya, dan barang siapa berdusta atas
namaku maka bersiap-siaplah untuk menempati tempatnya dineraka.” (HR. Bukhori)
Hal ini juga berkenaan
dengan firman Allah SWT:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ
قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (٢) نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ (٣)
Terjemahnya:
“Sesungguhnya Kami
menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran
ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah
Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”(Q.S. Yusuf/12: 2-3)
Ayat di atas menerangkan, bahwa Tuhan menurunkan
Al-Qur’an dengan memakai bahasa Arab kepada Nabi Muhammad SAW. Dan Nabi
menyampaikan kepada para sahabat dengan jalan cerita dan ceramah. Metode
ceramah masih merupakan metode mengajar yang masih dominan dipakai, khususnya
di sekolah-sekolah tradisional.
d. Metode Pengalaman Praktis/Trial and Eror dan Metode Berpikir
Seseorang yang hidup tidak akan luput dari sesuatu
yang bernama problem, bahkan manusia juga dapat belajar dari problem tersebut,
sehingga memiliki pengalaman praktis dari permasalahannya. Situasi-situasi baru
yang belum diketahuinya mengajak manusia berfikir bagaimana menghadapi dan
bagaimana harus bertindak. Dalam situasi demikian, manusia memberikan respons
yang beraneka ragam. Kadang mereka keliru dalam menghadapinya, tetapi kadang
juga tepat.
Dengan demikian manusia belajar lewat “Trial and
Error”, (belajar dari mencoba dan membuat salah) memberikan respons
terhadap situasi-situasi baru dan mencari jalan keluar dari problem yang
dihadapinya.
Al-Qur’an dalam
beberapa ayatnya memberikan dorongan kepada manusia untuk mengadakan pengamatan
dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Dalam Q.S.
Al-Ankabut: 20 Allah SWT berfirman:
قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ
الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٠)
Terjemahnya:
Katakanlah:
“Berjalanlah di (muka) bumi. Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya.
Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu.”(Q.S.
Al-Ankabut/29: 20)
Perhatian al-Qur’an dalam menyeru manusia untuk
mengamati dan memikirkan alam semesta dan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya,
mengisyaratkan dengan jelas perhatian al-Qur’an dalam menyeru manusia untuk
belajar, baik melalui pengamatan terhadap berbagai hal, pengalaman praktis dalm
kehidupan sehari-hari, ataupun lewat interaksi dengan alam semesta, berbagai
makhluk dan peristiwa yang terjadi di dalamnya. ini bisa dilakukan dengan
metode pengalaman praktis, “trial and error” atau pun dengan metode berfikir.
Nabi SAW sendiri telah mengemukakan tentang pentingnya
belajar dari pengalaman praktis dalam kehidupan yang dinyatakan dalam hadis yang di tahrij oleh Imam Muslim berikut:
حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي
شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ كِلاَهُمَا عَنِ اْلأَسْوَدِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ
أَبُوْ بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَسْوَدُبْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا
حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ
بِقَوْمٍ يُلَقِّحُوْنَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوْا لَصَلُحَ قَالَ فَخَرَجَ شِيْصًا فَمَرَّ
بِهِمْفَقَالَ مَا لِنَخْلِكُمْ قَالُوْا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَنْتُمْ
أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
Artinya:
Abu Bakar bin Abi Saybah dan Amr al-Naqidh bercerita
kepadaku. Keduanya dari al-Aswad bin Amir. Abu Bakr berkata, Aswad bin Amir
bercerita kepadaku, Hammad bin Salmah bercerita kepadaku, dari Hisham bin Urwah
dari ayahnya dari Aisyah dan dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu’anhu: Bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma
lalu beliau bersabda: “Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan
(tetap) baik. Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam
keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati
mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: ‘Ada apa dengan pohon kurma kalian? Mereka menjawab;
Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu? Beliau lalu bersabda:
‘Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (H.R. Muslim)
Hadis di atas mengisyaratkan tentang belajarnya
manusia membuat respon-respon baru lewat pengalaman praktis dari berbagai
situasi baru yang dihadapinya, dan berbagai jalan pemecahan dari
problem-problem yang dihadapinya.
Mengenai jenis belajar lewat pengalaman praktis atau “trial
and error” ini, al-Qur’an mengisyaratkan dalam ayat berikut:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا
مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (٧)
Terjemahnya:
“Mereka hanya mengetahui
yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan)
akhirat adalah lalai.”(Q.S. Ar-Rum/30: 7)
Al-Qurtubi, dalam
menafsirkan ayat ini, “Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan
dunia”, berkata: Yakni masalah penghidupan dan duniawi mereka. Kapan mereka harus menanam dan menuai dan bagaimana
harus menanam dan membangun rumah.
Artikel By Mohamad Nurkholis Mamonto

COMMENTS