Kisah Perjalanan Hidup Muhammad Abduh

Kisah Perjalanan Hidup Muhammad Abduh        Syaik Muhammad Abduh nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah. D...

Kisah Perjalanan Hidup Muhammad Abduh





       Syaik Muhammad Abduh nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah. Dia lahir di desa Mahallat Nasr di Kabupaten al-Buhairah, Mesir pada tahun 1849 M. Dia berasal dari keluarga yang tidak tergolong kaya, bukan pula keturunan bangsawan. Ayahnya dikenal sebagai orang terhormat yag suka member pertolongan. Ayahnya bernama Abdullah bin Hasan Khairullah, sementara ibunya yang bernama Junaynah, seorang janda yang mempunyai silsilah dengan Umar bin Khatab yang berasal dari sebuah desa di provinsi Gharbiyah. Kelahiran Abduh bersamaan dengan masa ketidakadilan dan ketidakamanan di Mesir yang dijalankan oleh pemerintah. Ketika itu mesir berada di bawah kekuasaan Muhammad Ali Pasya. Sebagai penguasa tunggal ia tidak mengalami kesukaran dalam mewujudkan program-program pemerintahan di Mesir, terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi dan militer. Ia adalah raja absolut yang menguasai sumber-sumber kekayaan terutama tanah, pertanian dan perdagangan. Di daerah-daerah, para pegawainya juga bersikap keras dalam melaksanakan kehendak dan perintahnya. Rakyat merasa tertindas. Untuk mengelakkan kekerasan yang dijalankan oleh pemerintah, rakyat terpaksa berpindah-pindah tempat tinggal. Ayah Abduh sendiri termasuk salah seorang yang tidak setuju dan menentang kebijakan pemerintah yang tiran itu. Salah satu dan kebijakan pemerintah yang ditentang oleh ayah Abduh adalah tingginya pajak tanah.
      Pendidikan dasar Muhammad Abduh untuk pertama kali pertama diterima orang tuanya sendiri melalui tulis-baca. Kemudian ia belajar dibimbing oleh seorang hafidz. Pada masa ini Abduh telah mulai menunjukan kemampuannya. Hanya dalam dua tahun dia telah mampu menghafal al-Qur’an. Pada tahun 1863, ia dikirim oleh ayahnya  ke Thahta untuk meluruskan bacaannya (belajar tajwid) di Mesjid Al-Ahmadi. Setelah berjalan dua tahun barulah ia mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan di mesjid itu. Karena metode pengajaran tidak tepat, setelah satu setengah tahun belajar, Muhammad Abduh belum  mengerti apa-apa. Menurut pertanyaan sendiri guru-guru cenderung mencekoki murid-murid dengan kebiasaan menghafal istilah-istilah tentang nahwu atau fiqih yang tidak dimengerti artinya. Mereka seakan-akan tidak peduli apakah murid-murid mengerti atau tidak tentang arti istilah-istilah itu. Karena tidak puas ia meninggalkan Thata dan kembali ke Mahallat Nasr dengan niat tidak akan kembali lagi belajar, tidak mau membaca buku-buku lagi.
Dalam usia 20 tahun, ia menika dengan modal niat mau menggarap ladang pertanian seperti ayahnya. Tetapi empat puluh hari dalam pernikahannya, ayahnya tetap memaksanya untuk kembali belajar. Namun, Muhammad Abduh sudah bertekad untuk tidak kembali. Dia lari ke desa Syibral Khit. Di sana banyak paman dari pihak ayahnya menetap bertempat tinggal. Di kota ini dia bertemu dengan Syaikh Darwisy Khidr, salah seorang pamannya yang mempunyai pengetahuan mengenai Al-Qur’an dan menganut paham tasawuf asy-Syadzillah sang paman berhasil mebgubah pandangan pemuda Muhammad Abduh, dari seseorang yang membenci ilmu pengetahuan menjadi orang yang menggemarinya.
Dari Thantha, Muhammad Abduh menuju ke Kairo untuk belajar di al-Azhar, yaitu pada bulan Februari 1866. Sistem pengajaran di kampus ini ketika itu tidak berkenan di hatinya, karena menurut Abduh; “Kepada para mahasiswa hanya dilontarkan pendapat-pendapat para ulama terdahulu tanpa mengantarkan mereka pada usaha penelitian, perbandingan dan penarjihan”. Namun, di perguruan ini dia sempat bekenan dengan sekian banyak dosen yang dikaguminya, antara lain; (1) Syaikh Hasan ath-Thanwil, yang mengajarkan kitab-kitab filsafat karangan Ibnu Sina dan logika karangan Arisoteles. Padahal kitab-kitab tersebut tidak diajarkan di al-Azhar pada waktu itu, (2) Muhammad al-Basyumi, seorang yang banyak mencurahkan perhatian dalam bidang sastra dan bahasa, bukan melalui pengajaran tata bahasa, melainkan melalui kehalusan rasa dan kemampuan mempraktikannya. Pada saat itu, Syaikh Darwisy kembali tampil demi membangkitkan semangat Abduh untuk kembali belajar di tempat yang sama. Kali ini bukan lagi hanya belajar materi agama seperti fiqih, tauhud dan semacamnnya, tetapi juga mempelajari logika, matematika, dan sains. Pengalaman ini menjadikan Abduh sangat toleransi dan bebas berpikir, yakni suatu sikap berpikir yang masih jarang ditemumkan ketika itu.
Pada tahun 1871, Jamaluddin Al-Afganistan tiba di Mesir. Afghani di samping sebagai tokoh terkenal di Mesir, juga dikenal sebagai penggagas kebebasan berpikir dalam bidang agama dan politik. Kehadirannya disambut oleh Muhammad Abduh dengan menghadiri pertemuan-pertemuan ilmiah yang diadakan oleh al-Afghani. Perjumpaannya dengan Afghani ini, mempunyai implikasi yang sangat besar bagi perkembangan pemikiran rasional Abduh. Setelah dua tahun sejak pertemuannya dengan Jamaluddin Abduh, dan mulailah dia menulis kitab-kitab, seperti Risalat al-Aridah, disusul kemudian dengan Hasyiat Syarh al-Jalal ad-Dawwani li al-Aqa’id adh-Adhudhiyah. Abduh, yang ketika itu baru berumur 26 tahun, telah menulis dengan mendalam tentang aliran-aliran filsafat, ilmu kalam, dan tasawuf serta mengkritik pendapat-pendapat yang dianggapnya salah. Di samping itu, Abduh juga menulis artikel-artikel pembaruan di surat kabar al-Ahram, Kairo. Melalui media ini, gema tulisan tersebut sampai ke telinga para pengajar di al-Azhar yang sebagian besar tidak menyetujuinya. Namun, berkat kemampuan ilmiahnya serta pembelanya, Syaikh Muhammad al-Mahdi al-Abbasi, yang ketika itu menduduki jabatan “Syaikh al-Azhar”, Muhammad ‘Abduh dinyatakan lulus lulus dengan mencapai tingkat tertinggi di al-Azhar. Ketika itu, abduh dalam usia 28 tahun.
Setelah lulus dari tingkat Alamiyah, dia mengabdikan diri pada al-Azhar dengan mengajar Manthiq dan ilmu kalam, sedangkan di rumahnya dia mengajar pula kitab Tahzib al-Akhlak, karangan Ibnu Miskawaih serta sejarah peradaban kerajaan-kerajaan Eropa. Pada tahun 1878 Muhammad Abduh diangkat sebagai pengajar “sejarah” pada sekolah Dar al-Ulum (yang kemudian menjadi fakultas) serta ilmu-ilmu Bahasa Arab pada Madrasat al-Idarah wa al-Alsun (Sekolah Administrasi dan Bahasa-bahasa) yang didirikan Khedive. Pada tahun 1879, Jamaluddin al-Afghani diusir oleh pemerintah Mesir atas hasutan Inggris yang ketika itu sangat berpengaruh di Mesir. Sedangkan Muhammad Abduh pada tahun yang sama diberentikan dari sekolah yang disebut terakhir dan diasingkan ke tempat kelahirannya, Mahallat Nashr (Mesir). Tetapi dengan terjadinya perubahan cabinet pada 1880, Abduh dibebaskan kembali dan disertai tugas memimpin surat kabar resmi pemerintah, yaitu al-Waqa’I al-Mishriyah. Surat kabar ini, oleh Muhammad Abduh dan kawan-kawannya, bekas murid afganistan, dijadikan media untuk mengkritik pemerintahan dan aparat-aparat yang menyeleweng atau bertindak sewenang-wenang.
Setelah Revolusi Urabi 1882 (yang berakhir dengan kegagalan), Muhammad Abduh, yang ketika itu masih memimpin surat kabar al-Waqa’I, terlibat dalam revolusi, sehingga pemerintah Mesir memutuskan untuk mengasingkan selama tiga tahun dengan member hak kepadanya memilih tempat pengasingannya. Akhirnya, dia memilih Suriah. Di negara ini, Muhammad Abduh menetap selama setahun. Kemudian dia menyusul gurunya Jamaluddin al-Afgani, yang ketika itu berada di Paris. Dari sana mereka berdua menerbitkan surat kabar al-Urwat al-Wutqa, yang bertujuan mendirikan pan-Islam serta menentang penjajahan Barat, Khususnya Inggris. Secara umum jurnal ini merupakan jurnal mingguan politik, yang melaporkan dan member gambaran tentang keadaan politik dan perjuangan umat Islam di negara-negara Islam untuk melepaskan diri dari dominasi luar, dengan tujuan menyatukan mereka. Menurut Ahmad Amin, sebenarnya jiwa dan pemikiran yang tertuang dalam jurnal tersebut berasal dari gurunya, sementara tulisan yang mengungkapkan jiwa dan pemikiran tersebut adalah dari Abduh. Dengan demikian, Abduh pada hakikatnya tidak jiwa revolusioner, namun ia cenderung menjadi pemikir dan pendidik sebagaimana terlihat dari kegiatannya baik ketika di Beirut maupun di Mesir. Abduh ingin mengadakan perubahan dan pembaruan Islam melalui pendidikan dan budaya bukan melalui revolusi.
Pada tahun 1885, setelah terbit 18 kali, jurnal ini dilarang beredar di Eropa maka Abduh meninggalkan Paris menuju Beirut (Lebanon) dan mengajar di sambil mengarang kitab-kitab: (1) Risalat at-Tauhud (dalam bidang teologi); (2) Syarh Nahjil Balaghah (komentar menyangkut kumpulan pidato dan dan upacan Imam Ali bin Abi Thalib); (3) Menerjamahkan kitab karangan Jamaluddin al-Afghani, ar-Raddu ‘Ala ad-Dahriyyin (bantahan terhadap orang yang tidak mempercayai wujud Tuhan) dari bahasa Persia; dan Syarh Maqamat Badi az-Zaman al-Hamazani (kitab yang menyangkut bahasa dan sastra Arab). Dalam Risalat at-Tauhid, Abduh mengemukakan kembali beberapa tesis fundamental dari kalam sunni abad pertenghan, dengan penekanan baru dan menghidupkan kembali rasionalisme.
Di Beirut, aktivitas Muhammad Abduh tidak terbatas pada mengarang dan mengajar saja, tetapi bersama beberapa tokoh agama lainnya, dia juga mendirikan suatu organisasi yang bertujuan menggalang kerukunan antar umat beragama. Organisasi ini telah membuahkan hasil-hasil positif, terbukti dengan dimuatnya artikel-artikel yang sifatnya menonjolkan ajaran-ajaran Islam secara objektif pada media massa di Inggris, padahal ketika itu, jarang sekali dijimpai hal serupa di media Barat. Namun, organisasi ini dan aktivitas-aktivitas anggotanya dinilai oleh penguasa Turki di Beirut mempunyai tujuan-tujuan politik, sehingga penguasa tersebut mengusulkan kepada pemerintah Mesir untuk mencabut hukuman pengasingan Muhammad Abduh agar dia segera kembali ke Mesir.
Pada tahun 1888, Muhammad Abduh kembali ke tanah airnya dan oleh pemerintah Mesir diberi tugas sebagai hakim di pengadilan Daerah Banha. Walaupun ketika itu Muhammad Abduh sangat berniat untuk mengajar, namun pemerintah Mesir agaknya sengaja merintangi, agak pikiran-pikirannya yang mungkin bertentangan dengan kebijakan pemerintah ketika itu, tidak dapat diteruskan kepada putra-putri Mesir. Tahun 1894, Abduh diangkat menjadi salah satu anggota panitia di al-Azhar. Posisi ini dipergunakan oleh Abduh untuk merealisasikan ide-ide pembaruannya. Namun perlawanan dari para ulama tradisional, membuatnya harus bekerja lebih keras lagi. Pada 1905, Muhammad Abduh mencetuskan ide pembentukan Universitas Mesir. Ide ini mendapat tanggapan yang antusias dari pemerintah maupun masyarakat, terbukti dengan disediakannya sebidang tanah untuk tujuan tersebut. Namun universitas yang cita-citakan ini baru berdiri setelah Muhammad Abduh berpulang ke Rahmatullah dan universitas, inilah yang kemudian menjadi “Universitas Kairo”. Pada tanggal 11 Juli 1905, pada masa puncak aktivitasnya membina umat, Muhammad Abduh meninggal dunia di Kairo, Mesir. Mereka yang menangisi kepergiannya bukan hanya umat Islam tetapi ikut pula berduka sekian banyak non-Muslim.


COMMENTS

Nama

Adab Berteman,2,Alam Semesta,1,Alqur'an,2,Berteman dalam kebaikan..,1,Cerita Kita,1,Dunia Islamiyah,1,Fiqih Wanita,1,Genersi Millenials,1,Hijab Syar'i,1,HMJ PBA,1,indahnya kata-kata,1,Inspirasi Islam,1,Islam Itu Indah,1,Kegiatan,1,Kegiatan HMJ PBA,1,Kegiatan Jurusan,1,Kegiatan Kepemimpinan,1,Kesehatan,3,Ketaatan Seorang Istri,1,kisah Cinta dalam Diam,1,Kisah Islami,2,Kumpulan Kisah,1,Kumpulan kisah islam,2,makan enak,1,Makanan,1,makna persahabatan,1,materi ceramah,1,metode belajar,1,Motivasi,1,Motivasi Kehidupan,1,mujahid,1,Olahraga,2,Pacaran dalam Islam,1,Panten Remaja,1,Pendidikan,2,Perhiasan Dunia,1,Pertemanan,2,prosa,1,Puisi Narasi,1,Resep Makanan,1,Sahabat...,1,Senja,1,Seputar Islam,1,suara hati,1,Tafsir Maudhui,1,TARIAN,1,Tentang Muttahidun,1,Wanita Muslimaah,1,
ltr
item
PBA 18 MUTTAHIDUN IAIN GORONTALO: Kisah Perjalanan Hidup Muhammad Abduh
Kisah Perjalanan Hidup Muhammad Abduh
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIktof0K7qpdAgvVyOMmA3-S0CaE6VdCV7MXWncTtGQtw44h6i-T08WJsya6iXzR1eCaIkGaEWlFQw71TXnRf5WO3b78JFHt77EG8lqinT4lVO-nMrR0UiONWXGmEAgF4l7oDSHF_Zw00/s320/bellaigue_1-060415.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIktof0K7qpdAgvVyOMmA3-S0CaE6VdCV7MXWncTtGQtw44h6i-T08WJsya6iXzR1eCaIkGaEWlFQw71TXnRf5WO3b78JFHt77EG8lqinT4lVO-nMrR0UiONWXGmEAgF4l7oDSHF_Zw00/s72-c/bellaigue_1-060415.jpg
PBA 18 MUTTAHIDUN IAIN GORONTALO
https://muttahidun.blogspot.com/2019/05/kisah-perjalanan-hidup-muhammad-abduh.html
https://muttahidun.blogspot.com/
https://muttahidun.blogspot.com/
https://muttahidun.blogspot.com/2019/05/kisah-perjalanan-hidup-muhammad-abduh.html
true
5861034918531955645
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy