"Anak sekarang itu lebih sering lihat gadget sama laptop ya..kalo diajak ngomong orang tua ga mau dengerin." "Anak sekarang...
"Anak sekarang itu lebih sering lihat gadget sama laptop ya..kalo diajak ngomong orang tua ga mau dengerin."
"Anak sekarang emang lebih pinter. Tugas aja bisa liat mbah google dan kirim email. Tapi gitu deh, lebih sibuk ama hape dan laptop ketimbang kumpul sama keluarga."
Keluhan-keluhan seperti ini sering banget kita denger dari orang tua kita. Yah, kemajuan teknologi memang gak bisa dihindari banget dan kita yang dituntut untuk menyesuaikan. Generasi-generasi yang sering dikomplen ama ortu-ortu kita (yang juga mendominasi populasi kaum muda saat ini) adalah generasi millenial atau disebut juga dengan generasi Y.
Definisi generasi milenial sebenarnya apa sih? Generasi millenial adalah generasi yang lahir dari tahun 1981 hingga 1994 (bahkan ada yang mengatakan sebelum tahun 2000). Mereka ini adalah orang-orang di usia produktif dan konsumen yang dominan saat ini.
Jumlah generasi millenials di dunia kerja mencapai 50 persen dan diperkirakan tahun 2030, generasi ini akan menguasai 75 persen lapangan kerja global. Di Indonesia sendiri, generasi ini mencapai 34.45 persen populasi.
Bisa dikatakan generasi Y adalah generasi yang tidak bisa lepas dari teknologi. Internet ngadat semenit dah panik, smartphone ketinggalan dah kaya mau pingsan (ya nggak?). Sementara dibanding generasi sebelumnya (generasi X, yang lahir antara tahun 1965-1980), penggunaan teknologi masih belum meluas karena generasi X lahir di awal-awal orang kenal PC, cable TV, disket (buat nyimpen data). MTV mulai booming di jaman itu (masih inget kan jaman MTV mendominasi di era 90an).
Sementara generasi sebelumnya, yang lahir dari tahun 1946-1965, disebut baby boomers karena tingginya angka kelahiran setelah Perang Dunia II. Generasi ini bisa dikatakan sebagai generasi penentu karena tiap orang sudah mulai menentukan arah perubahan, walau skalanya masih kecil. Mereka sudah mulai menerima perubahan dengan hadirnya musik rock and roll dan celana cut bray yang ngetren masa itu (nah coba deh tanya mama papa atau kakek nenek di rumah deh..kali aja inget hehe).
Beda generasi, tentu cara pandang terhadap suatu masalah dan solusinya, pola kerja, gaya hidup juga beda dong. Nah, kita bahas sisi positif generasi millenials.
Multitasking
Sambil WAan, lalu ngetik di laptop. Sambil gendong anak atau ngawasin anak main tetep browsing, jawab chat, atau ngetik. Sambil belanja online atau denger musik masih tetep ngejar deadline. Wah, wah, wah. Inilah kehebatan generasi sekarang. Perkembangan teknologi mengharuskan mereka bekerja serba cepat. Semua pekerjaan bisa dikerjakan secara bersamaan.
Kreativitas Dihargai
Jika dulu di dunia kerja semua manut apa kata boss, generasi Y mengedepankan persamaan. Gak peduli usia berapapun, semua sama. Yang dihargai adalah ide dan kreativitas.
Sering kan kita lihat anak-anak muda yang punya ide bisnis yang unik? Bahkan banyak yang masih sekolah dan mahasiswa lho.
"Anak sekarang emang lebih pinter. Tugas aja bisa liat mbah google dan kirim email. Tapi gitu deh, lebih sibuk ama hape dan laptop ketimbang kumpul sama keluarga."
Keluhan-keluhan seperti ini sering banget kita denger dari orang tua kita. Yah, kemajuan teknologi memang gak bisa dihindari banget dan kita yang dituntut untuk menyesuaikan. Generasi-generasi yang sering dikomplen ama ortu-ortu kita (yang juga mendominasi populasi kaum muda saat ini) adalah generasi millenial atau disebut juga dengan generasi Y.
Definisi generasi milenial sebenarnya apa sih? Generasi millenial adalah generasi yang lahir dari tahun 1981 hingga 1994 (bahkan ada yang mengatakan sebelum tahun 2000). Mereka ini adalah orang-orang di usia produktif dan konsumen yang dominan saat ini.
Jumlah generasi millenials di dunia kerja mencapai 50 persen dan diperkirakan tahun 2030, generasi ini akan menguasai 75 persen lapangan kerja global. Di Indonesia sendiri, generasi ini mencapai 34.45 persen populasi.
Bisa dikatakan generasi Y adalah generasi yang tidak bisa lepas dari teknologi. Internet ngadat semenit dah panik, smartphone ketinggalan dah kaya mau pingsan (ya nggak?). Sementara dibanding generasi sebelumnya (generasi X, yang lahir antara tahun 1965-1980), penggunaan teknologi masih belum meluas karena generasi X lahir di awal-awal orang kenal PC, cable TV, disket (buat nyimpen data). MTV mulai booming di jaman itu (masih inget kan jaman MTV mendominasi di era 90an).
Sementara generasi sebelumnya, yang lahir dari tahun 1946-1965, disebut baby boomers karena tingginya angka kelahiran setelah Perang Dunia II. Generasi ini bisa dikatakan sebagai generasi penentu karena tiap orang sudah mulai menentukan arah perubahan, walau skalanya masih kecil. Mereka sudah mulai menerima perubahan dengan hadirnya musik rock and roll dan celana cut bray yang ngetren masa itu (nah coba deh tanya mama papa atau kakek nenek di rumah deh..kali aja inget hehe).
Beda generasi, tentu cara pandang terhadap suatu masalah dan solusinya, pola kerja, gaya hidup juga beda dong. Nah, kita bahas sisi positif generasi millenials.
Multitasking
Sambil WAan, lalu ngetik di laptop. Sambil gendong anak atau ngawasin anak main tetep browsing, jawab chat, atau ngetik. Sambil belanja online atau denger musik masih tetep ngejar deadline. Wah, wah, wah. Inilah kehebatan generasi sekarang. Perkembangan teknologi mengharuskan mereka bekerja serba cepat. Semua pekerjaan bisa dikerjakan secara bersamaan.
Kreativitas Dihargai
Jika dulu di dunia kerja semua manut apa kata boss, generasi Y mengedepankan persamaan. Gak peduli usia berapapun, semua sama. Yang dihargai adalah ide dan kreativitas.
Sering kan kita lihat anak-anak muda yang punya ide bisnis yang unik? Bahkan banyak yang masih sekolah dan mahasiswa lho.
Lebih kritis
Dengan semakin derasnya arus informasi, generasi millenials tidak akan sekedar menelan informasi yang mereka dapat dari guru atau orang tua. Mereka akan mencoba membandingkan informasi yang mereka dapat dengan apa yang mereka dapat di dunia maya. Lalu cross check lagi. Ini akan membentuk pemahaman baru yang bisa jadi berbeda dari apa yang diajarkan di sekolah maupun di rumah.
Bisa berkontribusi dengan cara yang beda
Lepas dari mereka terkesan ga peduli, tapi bukan begitu. Betapa banyak kita denger sosok yang membangun bisnis berbasis sosial (social entrepreneurship), atau orang-orang yang menggerakan para pengguna sosial media untuk bisa membantu sesama.
Contohnya, saat ada kebakaran hutan tahun lalu. Muncul gerakan berbagi masker di socmed. Masker-masker ini dibagikan untuk warga Sumatera dan Kalimantan yang merupakan daerah yang terdampak kebakaran hutan.
Selain itu, munculnya situs penggalangan dana seperti kitabisa.com dan wujudkan.com memungkinkan netizen berbagi untuk sesama. Misal, ada yang mau bangun perpustakaan di desa. Dengan proposal yang dimuat di situs tersebut, kita bisa ikut menyumbang untuk kegiatan itu.




COMMENTS