Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Ia harus bergaul dengan sesamanya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. N...
Baginda Nabi memiliki beberpa sahabat yang Allah
pilihkan untuk menyampaikan risalahnya. Para sahabat ini sangat
mencintai beliau dan beliau pun mencintainya. Rasul sering bersama
mereka dan meninggalkan para pelaku keburukan dan pecinta dunia yang
berasal dari kalangan bangsawan.
Berkaitan dengan sahabatnya yang mulia ini Allah berfirman dalam surah Al-Kahfi yang artinya;
“ Bersabarlah dengan orang-orang yang menyeru
Tuhan di waktu pagi dan petang dengan mengharap ridhanya. Janganlah
kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan dunia.
Dan jangnalah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan
dalam mengingat kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya
melampui batas”.
Dalam riwayat At-Thabrani, yang dinukil oleh Ibnu
Katsir dalam tafsirnya, mengatakan bahwa ayat ini turun ketika Nabi
berada di rumahnya, lalu beliau keluar dari rumahnya mencari mereka, dan
beliau menjumpai suatu kaum yang sedang berdzikir mengingat Allah SWT,
di antara mereka ada beberapa orang yang berpenampilan lusuh dengan
rambut acak-acakan, berkulit kasar dan hanya mempunyai selapis pakaian
(orang-orang miskin). Setelah melihat mereka maka beliau duduk bersama
mereka dan bersabda; segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di
kalangan umatku orang-orang yang aku diperintahkan agar bersabar duduk
dengan mereka.
Dalam riwayat lain, ayat ini turun berkenaan
dengan para bangsawan Quraisy yang meminta Nabi duduk bersama mereka dan
memisahkan diri dari kalangan sahabat-sahabatnya yang lemah dan miskin,
seperti bilal, Ammar, Suhaib, Khabbab dan Ibnu mas’ud sehingga menjadi
dua kelompok. Lalu Allah melarang Nabi melakukan hal tersebut dengan
ayat ini.
Ayat di atas menganjurkan kepada kita untuk
memilih teman atas dasar ketaqwaan karena teman yang mengajak kita pada
ketaqwaan tentulah teman yang baik. Teman yang jahat adalah teman yang
mengajak dan menjerumuskan kita dalam kemaksiatan dan dosa.
Hal ini tidaklah mudah karena hawa nafsu selalu
ingin menggiring pada kesenangan dan teman yang mengajak pada kesenangan
lebih mudah didapat daripada teman yang mengajak susah-susah beribadah.
Padahal Allah memerintahkan kita untk mencari teman yang mengajak pada
taqwa.
Baginda Nabi pun sangat menganjurkan untuk
berteman dengan orang-orang baik dan pilihan. Beliau melarang kita
berteman dengan para pelaku keburukan dan pecinta dunia karena
kemungkinan besar kita bisa ikut arus seperti yang mereka lakukan.
Dalam riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad,
Rasulullah bersabda; seseorang akan dikumpulkan sesuai dengan agama
temannya. Hendaklah setiap kalian memperhatikan siapa yang akan
dijadikan teman”.
Hadis ini menghimbau betapa pengaruh seorang teman
itu bisa begitu hebatnya bahkan dalam memahami ilmu agama. Maka
memiliki teman yang baik, jauh dari iri dan dengki merupakan suatu
keagungan.
Teman yang baik akan banyak membawa manfaat bagi
kita untuk menuju Allah karena ketika kita menderita dan lupa berbuat
maksiat maka teman yang baik akan mengunjungi dan menasehati kita untuk
selalu berada di jalan Allah.
Hadis ini bisa dimaknai umum dan khusus. Makna
secara umum adalah anjuran berteman dengan siapa saja selama ia bertaqwa
dan menjaga akhlaqnya serta selalu mengajak kepada kebaikan.
Sedangkan makna secara khusus bagi para penempuh
jalan Tuhan/salik untuk bershuhbah/berguru pada syaikh atau mursyid
tertentu dalam rangka menuju Allah karena tanpa shuhbah yang benar maka
ia bisa tersesat dan gurunya adalah syaitan.
Bershuhbah atau berteman di jalan Allah akan
menjadikan kita mulia dihadapan Allah dan manusia. Di samping kita akan
mendapatkan ilmu dan petunjuk, kita juga akan mendapatkan ibrah dari
nasehat-nasehat yang diberikan kepada kita sesuai dengan ajaran rasul,
para sahabat dan orang-orang shalih.
Ketika bershuhbah hendaknya kita menjaga adab
terhadap teman atau guru kita. Di antara adab dalam
persaudaraan/pertemanan di jalan Allah adalah menutup aib teman/
saudaranya yang seiman karena manusia tidak pernah lepas dari yang
namanya aib dan dosa.
Ketika melihat teman jatuh pada aib dan dosa
menjadi tugas kita menutupi dan menasehatinya dengan benar. Rasul
bersabda; bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.
Maksudnya adalah pada aib dan kesalahan yang
dilakukan mukmin lain terdapat pula kekurangan pada diri kita sehingga
seorang mukmin berupaya menyempurnakan sudaranya sesama mukmin dengan
cara menutupi kekurangannya.
Dengan kata lain, seroang muslim yang satu dan
yang lainnya seperti dua tangan yang saling membersihkan ketika terkena
debu. Inilah shuhbah/pertemanan sejati.
Dalam konteks masa kini memang tidak mudah mencari
teman yang dapat menghantarkan kita kepada Allah. Bercampur-baurnya
yang baik dan yang buruk menyeret seseorang pada perilaku yang abu-abu.
Pertemanan sejati menjadi samar dan lebih banyak
dilekatkan karena adanya unsur kepentingan dan keuntungan. Sikap saling
menasehati dan tolong-menolong dalam kebaikan menjadi doktrin lama yang
tergantikan doktrin aku-kamu mendapatkan apa. Kebaikan kemudian menuntut
syarat demi suatu tujuan saling menguntungkan. Prinsip utama pertemanan
yang berdasarkan taqwa seolah hanya menjadi penghias bibir supaya enak
didengar tapi sulit dilakukan.
Maka dari itu, tugas kita seharusnya diusahakan
dalam rangka mencari teman yang dapat menjadi lentera bagi kita menuju
ke jalan Allah. Seperti dalam firman Allah yang dalam surah Al-Hujurat
yang artinya; ” Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah orang
yang paling bertaqwa”.
Setelah sebelumnya Allah melarang kita berburuk
sangka kepada orang lain lalu Allah memerintahkan kita untuk tidak
membeda-bedakan suku, agama, dan ras dalam bergaul tapi yang terpenting
adalah ketaqwaannya. Ketaqwaan menjadi tolak ukur kemuliaan seseorang
dalam pandangan Allah.
Artinya, mencari teman yang membawa kita kepada
ketaqwaan/ketaatan hendaknya diupayakan terus dan digandeng setelah
bertemu karena teman yang mengajakmu menempuh jalan akherat adalah
sebaik-baik teman.
Sedangkan teman yang mengajakmu bersenang-senang
dan melampui batas di dunia adalah sejatinya seburuk-buruk teman dan
dapat menjerumuskanmu ke neraka. Seperti dalam firman Allah dalam surah
Az-Zukhruf ayat 67 yang berbunyi; “teman-teman akrab pada hari itu
menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang
bertaqwa”.
Dari itu, mencari teman yang baik dan jujur adalah
perintah syariat. Syariat menganjurkan kita selektif dalam memilih
teman. Karena pengaruh teman itu dahsyat sekali dan seringkali tidak
kita sadari baik atau buruknya.
Berteman dengan seorang penjual minyak wangi
kemungkinan besar kita akan ikut wangi sebaliknya berteman dengan
penjual terasi kita juga akan sedikit-banyak akan bau terasi.
Pertemanan atas dasar taqwa ini bukan bukan saja
dimaksudkan untuk menjauhi prilaku maksiat dan cinta dunia tapi juga
bertujuan untuk membentengi diri dari pengaruh negatif yang muncul dari
luar. Inilah makna berteman sekaligus berguru (shuhbah) kepada
orang-orang shalih dalam rangka wushul kepada Allah.
Pertemanan yang tidak semata dimaknai secara
kedekatan lahir tapi teman yang bermakna ketulusan hati dengan cara
saling menasehati dan mengajak pada kebaikan, kebenaran serta kezuhudan.
Allah SWT dalam surah At-Taubah ayat 19
mengatakan; “ wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada
Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”. Imam Hasan
Al-Bashri dalam menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa yang dimaksud
teman-teman yang benar adalah orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan
orang yang tidak suka mencaci saudaranya yang seagama.
Akhir kalam, untuk berteman dengan orang-orang
zuhud dan shalih maka hendaklah kita juga harus berlaku zuhud terhadap
dunia dan menjaga ketaatan kita kepada Allah melalui petunjuk mereka.
Berteman dengan orang-orang seperti mereka dan duduk dalam majlis-majlis
mereka insya Allah kita akan terserap pula dalam kondisi mereka dan
mengikuti jalan-jalan yang diridhai Allah SWT.(Lutfi Syarqawi).

COMMENTS